Minggu, 19 Oktober 2008

Gadis Kolombia itu Bersyahadah Lewat Internet


"Bueno mija, felicitaciones!" Ucapan selamat itu diberikan pada Saidah Paola Dugue Correa, gadis Kolombia yang kini menemukan Islam!

PENGANTAR. Namanya Saidah Paola Dugue Correa. Dia dilahirkan di kota Bucaramanga, Kolombia. Namun sebagian besar masa kecilnya dihabiskan di kota Valledupar, sebuah kota yang terletak di bagian timurlaut Kolombia. Saidah merupakan sarjana Biologi dari Universidad de Santander (UDES), Bucaramanga. Kini menekuni pekerjaan sebagai seorang bakteriologis. Perkenalan pertamanya dengan Islam adalah tatkala menerima sebuah e-mail dari seorang Muslim Mesir. Berawal dari sanalah dia tertarik dengan Islam dan akhirnya bersyahadah. Saidah saat ini bekerja dengan Mostafa Mohye, pria yang mengirim e-mail tersebut dan manejer sebuah proyek yang berpusat di Mesir. Proyek itu dikhususkan bagi para muallaf baru yang ada di Spanyol dan Amerika Latin. Berikut kisah lengkapnya:

---000---

“Sebelum masuk Islam saya menganut Katolik. Tapi saya tidak pernah mempraktekkan agama itu dalam kehidupan sehari-hari. Bisa disebut agama cuma di KTP,” kata Saidah di awal kisahnya. Kini, selepas masuk Islam, Saidah mengaku bangga menjadi seorang Muslimah. Dia sangat bersyukur dengan anugerah yang luar biasa itu.

“Tahun 2004 merupakan awal ketertarikan saya dengan Islam, Alhamdulillah. Sebelum tertarik dengan Islam saya sebenarnya sudah punya rasa ingin tahu yang tinggi dengan budaya Arab, seperti musik Arab, lalu ingin ketemu dengan orang-orang Arab, dan banyak lainnya lagi. Saya juga sangat suka kaligrafi Arab. Itulah beberapa hal yang saya suka dari dunia Islam, jauh sebelum masuk Islam,” kata dia.

E-mail dari Mesir

Perlahan, sembari mempelajari budaya Arab itu tanpa disadarinya diapun “bersentuhan” dengan Islam. “Tahu tidak, pertemuan pertama saya dengan Islam adalah lewat internet,” lanjut Saidah. Ceritanya, satu hari di tahun 2004, Saidah menulis sebuah komentar singkat pada sebuah website Islam yang baru dibacanya. Di situ Saidah menulis bahwa dia sangat tertarik untuk mengetahui Islam.

Beberapa hari kemudian dia menerima sebuah e-mail yang berbunyi:”Anda tertarik untuk mendapatkan buku-buku gratis tentang Islam dalam bahasa Spanyol?". Pengirim surat elektronik itu mengenalkan dirinya dengan nama Mostafa Mohye Mossad dan mengaku berasal dari Mesir. “Ketika membaca e-mail itu saya benar-benar surprise. Tetapi secara spontan hati saya dilanda sedikit keraguan. Mana mungkin ada orang mau berikan buku secara gratis. Ah, ini tidak normal,” aku Saidah.

Begitupun, meski Saidah tidak mengenali siapa itu Mostafa Mohye, dia tetap menaruh perhatian besar pada e-mail tersebut. Sebab, itulah kontak pertama dia dengan kalangan Islam. Perkara itu (keragu-raguan) tak membuatnya surut untuk mengetahui Islam lebih jauh. “Saya balas e-mail itu serta memberikan alamat rumah. Tak lama, kira-kira 2 bulan, buku-buku dimaksud sampai ke alamat saya,” kisahnya. Saidah mengaku sangat gembira sekaligus takjub. Ternyata keragu-raguannya tak terbukti.

Mulai “berdakwah”

“Kala itu, saya jadi tertarik untuk terus melakukan kontak dengan Mohye. Dia telah menunjukkan cara yang sangat menarik dalam mengenalkan Islam kepada nonMuslim,” tukasnya. Saidah bahkan mengirimkan Mohye alamat beberapa orang rekannya yang nonMuslim agar juga dikirimkan buku sejenis. Bukan main, rupanya Saidah mulai “berdakwah” pula. Dan yang membuatnya takjub, Mohye mengirim buku-buku Islam ke teman-temannya yang ada di berbagai negara dengan bahasa negara asal rekan-rekannya itu..

“Juli 2004, kami mulai melakukan kerja dakwah. Kami berempat yakni Mohye, Maryam, Claudia dan saya sendiri membentuk sebuah kelompok kecil. Kini, tahun 2008, Alhamdulillah jaringan dakwah kami sudah luas. Tim kami berjumlah 30 orang yang bersal dari negara-negara latin seperti Kolombia, Argentina, Brazil, Chili, Peru, Meksiko dan lainnya. Tiap kelompok melakukan pertemuan dengan orang-orang yang tertarik dengan Islam,” pungkas Saidah.

Menariknya, Saidah sendiri justru belum bersyahadah lagi. Tapi dia sudah ikut membantu kegiatan dakwah Islam. Inilah yang bikin heran sebagian Muslim dan bahkan juga nonMuslim yang lain. Saidah terkadang sangat gigih mempertahankan Islam, jika ketemu dengan orang-orang yang salah dalam memandang Islam. Dengan sigap dia menerangkan kepada mereka tentang kebenaran Islam.

Makin cinta Islam

“Begitulah, bantuan berupa buku-buku referensi dari kawan-kawan, juga referensi dari internet, sangat membantu saya dalam mempelajari Islam. Kecintaan saya pada Islam makin hari makin bertambah. Belajar lewat internet sungguh menarik. Jalur diskusi online sangatlah membantu. Misalnya chatting. Saya banyak bertanya pada rekan-rekan Muslim melalui cara chatting ini. Jadi, dapat saya katakan perkenalan awal saya dengan Islam ya melalui internet,” lanjutnya.

Beberapa temannya kadangkala bertanya kenapa tidak masuk Islam. Saidah selalu menjawab bahwa dia cuma ingin belajar saja, tak ada keinginan untuk masuk Islam. Namun, hati nuraninya tak bisa dibohongi. Seiring dengan perjalanan waktu, dia mulai merasakan sesuatu yang lain di hati.

Saidah mengaku perlahan ada yang “mengalir” dalam hatinya. Tampaknya dia mulai menemukan kebenaran itu ada dalam Islam. Menurut dia, Islamlah agama yang benar. Satu-satunya jalan dan sekaligus cahaya kehidupan yang benar. “Itulah yang muncul dalam pikiran dan hati saya waktu itu. Dan, Mohye kerap menanyakan akankah saya bersegera untuk bersyahadah. Saya hanya menjawab belum lagi. Saya masih butuh beberapa lama lagi untuk memutuskan itu,” kata Saidah.

Memasuki 2007, sebagian teman-teman akhirnya tahu ternyata Saidah belum bersyahadah lagi.

“Tapi pada kenyataannya saya sudah bersyahadah di dalam hati. Sebab saya telah yakin bahwa tidak ada Tuhan selain Allah dan Muhammad utusan-Nya,” tukasnya.

Teman-temannya berujar:"Hatimu sebenarnya sudah Islam. Kamu seorang Muslim. Semua yang kamu lakukan adalah perbuatan seorang Muslim. Tapi kamu mungkin belum tahu, syahadah itu adalah perkara penting untuk sahnya keislaman seseorang.” Saidah akhirnya paham apa maksud rekan-rekannya itu.

Ke Maicao

Pada akhir Ramadhan 2007 Saidah melawat ke Maicao, sebuah kota di propinsi La Guajira, Kolombia, dengan seorang teman Muslimnya Aisyah. Saidah kesana untuk menemani Aisyah yang hendak bersyahadah.

Di Maicao, saat berada di mesjid, Saidah menyaksikan teman-teman mengerjakan shalat. Saat itu hatinya tergerak untuk berdoa dan bermohon pada Allah agar membantunya dalam mengambil keputusan.

“Ya Allah, jika ini memang jalan yang Engkau inginkan, tunjukilah jalan menuju Islam ya Allah,’ pintanya sungguh-sungguh.

Beberapa hari kemudian dia menyatakan pada Aisyah dan salah seorang rekan lainnya yakni Muhammad Hamoud tentang keputusannya (untuk memeluk Islam). Mereka terlihat sangat gembira sekali.

“Kamipun bersegera menuju ke mesjid guna mendeklarasikan syahadah itu. Oya beberapa saat sebelum kesana saya sempat menelpon kedua orangtua dan menceritakan keinginan masuk Islam pada mereka,” kisahnya lagi. Saidah merasa perlu memberitahukan kedua orangtuanya, sebab baginya keputusan tersebut akan sangat mempengaruhi kehidupannya di kemudian hari.

Mendengar penuturan putrinya, Milciades, sang ayah berujar dalam bahasa Kolombia:"Bueno mija, felicitaciones!" Artinya, putriku, selamat! Kalimat singkat dari sang ayah sudah lebih dari cukup bagi Saidah. Dia merasa tenang dan makin percaya diri.

Sementara ibunya, Luisa, awalnya sedikit bingung dengan keputusan anaknya itu. Namun akhirnya dia paham kemauan Saidah. "Ok anakku, kamu yang lebih tahu apa yang terbaik bagi kamu”, ujar ibunya kala itu. Kebahagiaan Saidah makin bertambah. Dia bahkan berdoa semoga Allah merahmati mereka dengan hidayah-Nya.

Bersyahadah via internet

Saidah pun mendeklarasikan keislamannya via internet di depan dua orang saksi, yakni Mostafa Mohye dan Ahmed, keduanya dari Mesir. Baik keluarga maupun teman-temannya yang nonMuslim menyambut keislamannya itu secara tenang. Tak ada komentar-komentar miring.

“Ya ada juga sedikit joke-joke kecil, tapi tidak masalah bagi saya. Alhamdulillah, yang terpenting saya masih bagian dari kehidupan mereka. Misalnya keponakan saya, Omar David yang baru berusia 6 tahun, sering meminta saya menulis kata Alah dalam bahasa Arab. Dia suka kaligrafi rupanya. David juga suka mendengar lagu-lagu Islam. Bahkan adakalanya dia meminta saya untuk membacakan beberapa potong ayat suci Alquran,” kata dia mengenang.

“Sungguh, keputusan untuk masuk Islam benar-benar datang dari lubuk hati yang dalam. Bukan karena paksaan seseorang atau hal lainnya. Itu semata-mata karena Allah telah menunjukkan jalan yang penuh cahaya kepada saya,” akunya.

Saidah berusaha menunjukkan budi pekerti terbaiknya guna menunjukkan bahwa Islam itu agama yang benar. Saidah beranggapan, selama ini banyak berita tentang Islam, baik melalui televisi ataupun media cetak, seringkali tidak adil dalam pemberitaannya.

“Benar bahwa ada sekelompok Muslim yang melakukan perbuatan keji dan merusak. Tapi janganlah menyalahkan Islam. Itu semata-mata kesalahan pemeluk bukan agamanya. Karena itu saya berpesan kepada semua Muslim untuk menunjukkan akhlak terbaik sepertimana diajarkan Islam dan telah dicontohkan oleh Rasulullah SAW. Hanya ini yang bisa merubah persepsi mereka yang tidak suka Islam,” pesan Saidah seraya menutup kisahnya. [Zulkarnain Jalil/www.hidayatullah.com]

Rabu, 03 September 2008

Muslim Palestina Jalani Ramadhan di Tengah Kesulitan dan Kepedihan


Rakyat Palestina menjalani bulan suci Ramadhan tahun ini, lagi-lagi dalam situasi yang memprihatinkan. Sebagian besar dari mereka masih mengandalkan bantuan makanan dari PBB, karena blokade ekonomi dan tekanan penjajah Israel yang terus menerus.

"Daging? Kamu kira dengan apa saya bisa membeli daging," ujar Ahmad Hassan Makdad, ketika ditanya menu makanan apa yang akan tersedia di rumahnya selama bulan puasa.

Ahmad bersama-sama dengan warga Palestina lainnya, sedang mengantri pemberian jatah makanan dari badan bantuan PBB untuk Palestina-UNWRA yang terdiri dari tepung, minyak, gula dan beras di kamp pengungsi Jabaliya.

Selama enam bulan belakangan ini, Jalur Gaza mengalami krisis pangan, krisis terburuk selama 13 tahun terakhir, akibat embargo ekonomi yang dilakukan AS serta sekutunya pada pemerintahan Hamas.

Sebagai orang Palestina, Ahmed kini tidak lagi bisa menjaga tradisi saling mengunjungi kerabat dan sahabat selama ramadan karena tidak punya cukup uang.

"Menurut tradisi, kami memberikan hadiah-hadiah, kue atau daging. Dari 10 kunjungan tahun ini, saya hanya akan bisa melakukan satu kunjungan saja," tutur Ahmad, ayah delapan anak berusia 57 tahun itu.

Akibat embargo bantuan terhadap Palestina, puluhan ribu pegawai negeri di negeri itu sejak bulan Februari lalu tidak menerima gaji secara penuh. Kondisi ini sangat mempengaruhi kualitas kehidupan sekitar satu juta rakyat Palestina, baik di Jalur Gaza maupun di Tepi Barat.

Disisi kantor UNWRA, seorang ibu sedang membantu anak lelakinya mengangkut sekitar enam kilo tepung ke gerobak yang ditarik oleh seekor keledai.

"Saya pikir, Ramadhan ini akan menjadi yang paling sulit dalam kehidupan saya," keluh Umi Nassim. Kedua tangannya yang berlumuran tepung terkulai lemas, sebagai tanda ketidakberdayaannya.

"Inikah kehidupan? Kami bergantung pada bantuan asing," tukas Samir Al-Qatari, seorang sopir taxi dengan nada marah.

"Seluruh dunia bersekongkol untuk menciptakan penderitaan bagi rakyat Palestina, AS, Eropa dan negara-negara Arab. Khususnya negara-negara Arab," keluh Al-Qatari.

Sejak bulan Maret, UNWRA menambah sekitar 100 ribu orang di Jalur Gaza, dalam daftar mereka yang akan mendapatkan bantuan makanan. Menurut badan PBB itu, 60 persen penduduk Gaza atau sekitar 830 ribu orang, menerima bantuan makanan dari PBB.

"Situasinya suram. Lihatlah semua anak-anak di sini. Anda pikir mereka mau datang kesini jika mereka punya pekerjaan?" tanya Ahmad putus asa.

Di tempat lain, Umi Ossam menjual paket makanan yang diterimanya dari UNWRA pada sesama warga Palestina yang tidak masuk klasifikasi pengungsi dan tidak masuk katagori penerima bantuan PBB.

"Saya menjual satu bungkus tepung untuk membeli kebutuhan lainnya. Sekarang ini tahun ajaran baru dan anak-anak saya butuh buku-buku dan pena," ujar Umi Ossam.

"Tidak akan ada perayaan idul fitri tahun ini," sambungnya getir sambil tawar menawar dengan pembeli tepungnya. (ln/iol)
http://www.eramuslim.com/berita/int/6925154052-muslim-palestina-jalani-ramadhan-tengah-kesulitan-dan-kepedihan.htm?prev

Kamis, 07 Agustus 2008

Jangan Kagum


Diriwayatkan ada seorang laki-laki yang memperhatikan dengan kagum Basya As-Sulaimi yang sedang sholat dengan khusyu'. Ketika Basyar selesai shalat, ia berkata pada laki-laki tersebut. "Jangan kamu kagum dan tertipu melihat ibadah saya. Saya khawatir, karena sesungguhnya iblis laknatullah telah menyembah Allah selama bertahun-tahun kemudian dia durhaka seperti keadaannya sekarang". (Hilyatul Aulia, 6/241)

Sabtu, 26 Juli 2008

Bosnia 1995 (Renunganku)


Oleh Eko Prasetyo
Menjelang bulan suci Ramadhan ini, saya teringat dengan kejadian pada September 2007. Saat itu, ada salah seorang rekan kami yang akan dikirim ke Sarajevo, Bosnia, untuk meliput kegiatan Ramadhan warga di sana. Sayang, dia tidak jadi meliput karena mengalami masalah saat transit di Bangkok.

Ketika itu, dia bermaksud melanjutkan penerbangan ke Austria untuk transit sebelum menuju ke Sarajevo. Namun, pihak bandara di Bangkok justru memeriksa ketat paspor dan visa rekan saya tersebut. Hal yang diskriminatif. Pasalnya, di antara puluhan calon penumpang Austrian Airlines, hanya dia yang diperiksa. Apakah karena dia orang Indonesia? Entahlah.

Namun, berbicara tentang Bosnia, saya sangat bersyukur mendengar Radovan Karadzic telah tertangkap pada 22 Juli 2008 setelah 13 tahun buron. Bukan apa-apa, dia adalah tokoh keji yang mengakibatkan ratusan ribu muslim Bosnia tewas dalam Perang Bosnia (1992-1995). Sedangkan ratusan ribu warga muslim Bosnia lainnya dikabarkan hilang.

Karadzic adalah mantan presiden Serbia-Bosnia yang merancang dan memerintahkan perang di daratan Eropa yang paling mengerikan sejak Perang Dunia II. Saat perang tersebut mulai berkecamuk (1992), saya masih SD. Namun, kelak sekian tahun kemudian, saya mulai menyadari betapa kejam tindakan Karadzic dan Jenderal Ratko Mladic yang masih belum tertangkap.

Saya sedikit tahu tentang tokoh ini dari literatur asing yang saya baca. Saya begitu geram saat membaca ulang tentang peristiwa Srebrenica pada Juli 1995. Dalam peristiwa tersebut, sekitar 8.000 pria muslim Bosnia yang tak berdaya tanpa senjata dibantai tentara Serbia. Pembantaian itu terjadi setelah tentara Serbia menerobos penjagaan tentara PBB asal Belanda yang bertugas melindungi pengungsi muslim Bosnia di sana.

Selanjutnya, jasad para warga muslim tersebut dibuldoser dan dikuburkan dalam satu lubang besar. Masya Allah. Perang telah mengoyak hati saudara-saudara muslim nun jauh di sana. Mereka juga kehilangan sanak saudara dan harta benda. Perang Bosnia memang telah lama berakhir.

Namun, sisa-sisa kepedihan itu tentu masih ada. Lalu, benak saya terbawa pada perjuangan kaum muslimin di Palestina. Negeri mereka dilanda perang dan pertikaian yang tak kunjung usai melawan Israel. Darah selalu tumpah setiap hari di konflik Timur Tengah. Malam-malam di kantor setelah deadline, saya membalik kembali lembaran-lembaran buku tentang amalan hati. Secangkir kopi dan bulan sabit di balik kaca kantor menghangatkan suasana dini hari itu.

Saya bergumam lirih, ”Alhamdulillah saya berada di negeri yang merdeka.” Tertitip doa untuk saudara-saudara kami, kaum muslimin Bosnia dan Palestina. Semoga perjuangan mereka menjadikan cerminan bagi bangsa ini agar kita selalu bersyukur kepada Allah. Tidak terus menodai kemerdekaan dengan sikap amoral yang tercela. prasetyo_pirates@yahoo.co.id

Kamis, 17 Juli 2008

7 Perkara Aneh


Imam Ibnul Qayyim dalam Al Fawaid mengingatkan tentang tujuh perkara aneh yang sangat berbahaya bagi mnusia. Pertama, engkau tahu Allah, tetapi engkau tidak mencintai-Nya. Kedua, engkau mendengar seruan Allah, tetapi engkau terlambat menjawab seruan-Nya. Ketiga, engkau tahu keuntungan jika bergaul dengan-Nya, tetapi engkau justru bergaul dengan selain-Nya. Keempat, engkau tahu kemarahan-Nya, tetapi engkau justru memancing-mancing murka-Nya. Kelima, engkau tahu betapa sakit adzab-Nya jika menentang-Nya, tetapi engkau tidak meminta belas kasihan kepada-Nya dengan mentaati-Nya. Keenam, engkau merasa sakit hati jika tidak menyebut nama-Nya, tetapi engkau justru tidak mau menyebut nama-Nya dan tidak bertaubat kepada-Nya. Ketujuh, dan yang lebih aneh lagi, engkau tahu bahwa engkau sangat membutuhkan-Nya, tetapi engkau justru berpaling dari-Nya dan mencintai yang menjauhkan.

Senin, 14 Juli 2008

”Adzan itu Masih Terngiang di Telingaku”


Selasa, 10 Juli 2007
Wanita yang bekerja di kantor PBB New York ini akhirnya memutuskan memeluk Islam. Suara adzan, diantara yang ikut membawanya menuju Islam

M. Syamsi Ali

Hidayatullah.com--Sabtu 9 Juni lalu, saya datang ke Islamic Cultural Center of New York lebih awal. Selain ingin melihat dari dekat jalannya Weekend School (sekolah akhir pekan), juga sekretaris menelpon kalau ada seseorang yang ingin bertanya tentang Islam. Saya minta agar dipersilahkan datang setelah Zuhur sehingga bergabung dengan the Islamic Forum for non Muslims, kelas khusus setiap pekan bagi orang-orang non-Muslim yang ingin mengetahui lebih jauh mengenai ajaran Islam. Tapi rupanya, orang tersebut hanya bisa sebelum jam 12 siang itu.

Sekitar pukul 11 pagi masuklah seorang wanita bule dengan kerudung yang rapih. Saya sedikit terkejut sebab ketika masuk ke ruangan saya dia mengucapkan salam dengan sangat fasih, bahkan hampir saja saya mengira kalau yang bersangkutan itu adalah orang Syam (Palestina, Jordan atau Libanon).

Saya kemudian mempersilahkannya duduk dan bertanya: “Hi, what’s your name and where are you from?” Dengan sedikit tersenyum dia menjawab: “Hi,. I am Jemie. I am from here but my parents are from Texas”. Saya ingin tahu kefasihan dia dalam bersalam, maka saya tanya: “How come you said salaam in way that’s so perfect? I tended not to believe that you’re an American”. “Oh..I know Arabic and speak it fluently” jawabnya cepat.

Mendengar itu, saya balik stir dari Inggris ke Arab. “Aena darasti al Arabiyah?” tanyaku. “Darastuha fi Suriyah, lakin qabla sanawaat”, jawabnya. Tanpa terasa percakapan saya dengannya memakan waktu cukup panjang dalam bahasa Arab, termasuk kenapa sampai belajar bahasa Arab di Suriah dan untuk apa. Dari penjelasannya, ternyata dia bekerja di Kementrian Luar Negeri dan sekarang ini pindah tugas di DPI (Department of Public Information) PBB New York.

Saya kemudian memulai bertanya tentang keinginannya mengetaui Islam. “I know a lot about Islam. Basically I am coming this morning because I feel this is the right time for me”, katanya. “What do you mean the right time?” tanyaku. Dengan sedikit serius dia menjelaskan: “For the last many years, about 10 years, I have been so confused and struggling within my self”. “Why is that?” tanyaku dengan sedikit heran.

Tiba-tiba saja, Jemie yang tadinya nampak tegar dan selalu tersenyum itu, kini meneteskan airmata. “You know, I tried my best not to this”, katanya sambil mengusap air matanya. “Why is that?” tanyaku. “This may kill my career” katanya agak gusar. Saya kemudian bertanya dengan serius: “What do you mean killing your career?”. Seolah memaksakan tersenyum, Jemie mengatakan bahwa dia khawatri kalau masuk Islam akan susah meniti karir yang lebih tinggi.

Saya kemudian bertanya lebih jauh: “Why do you think in that way?”. Ternyata karena pengalaman yang dia lihat selama ini di beberapa negara Muslim. Menurutnya, mayoritas wanita Muslim di negara-negara Muslim tidak bekerja dan lebih memperioritaskan dirinya kepada pekerjaan-pekerjaan rumah saja.

Saya kemudian mencoba menjelaskan ke Jemie bahwa tidak ada peraturan dalam Islam yang membatasi karir kaum wanita. Walau memang perlu diketahui bahwa karir itu akan dilihat kepada prioritas-prioritas tuntutan hidup. Kalau seandainya menjadi ibu rumah tangga itu menjadi tuntutan utama bagi wanita, dan ketika dipaksakan untuk meniti karir di luar maka berarti terjadi “kesemrawutan” dalam hidup.

Dari penjelasan-penjelasan yang cukup panjnag itu nampaknya Jemie sudah banyak tahu. Cuma ada semacam ketakutan tersendiri bahwa nantinya setelah menjadi Muslim dia akan dilarang untuk berkarir. “In fact, Islam wants all Muslim women to be professional. Didn’t you read the hadith that commands the women to study as men?”, jelasku.

Kini Jemie nampak lebih tenang. Hampir tidak berbicara dan bahkan beberapa kali saya pancing untuk bertanya juga tidak dihiraukan. Tiba-tiba saja sekali lagi nampak berlinang airmata dan mengatakan: “I have some thing to tell you!” “What’s that?” tanyaku. Dia dengan nampak serius sekali walaupun terus meneteskan airmata mengatakan: “When I was in Syria around ten years ago, I was so impressed with the Adzan”. Saya mengatakan bahwa memang adzan orang-orang Suriah itu indah. “Their voice is softer than other Arabs, kata saya. “But I swear, that adzan never gone from my ear. I feel being listening to it all the time” katanya serius.

Tanpa sadar, saya langsung mengatakan “Subhanallah!”. Ternyata dia juga sudah tahu maknanya. Saya kemudian mengatakan: “Sister, God is loving you. Your heart is being attached to the divine inspiration, and I am sure you are being blessed with that”. Nampak Jemie hanya menangis mendengar nasehat-nasehat saya itu.

Akhirnya, setelah memanggil dua saksi, Jemie dengan berlinang airmata secara resmi menerima Islam sebagai jalan hidupnya yang baru. Allahu Akbar!

Semoga Jemie selalu dikuatkan di jalanNya! Amin!

New York, 18 Juni 2007

* Penulis adalah imam Masjid Islamic Cultural Center of New York. Syamsi adalah penulis rubrik "Kabar Dari New York" di www.hidayatullah.com.

Sabtu, 12 Juli 2008

Muhasabah Jiwa


Metode untuk mengatasi kekuasaan nafsu ammarah atas hati seorang mukmin adalah dengan selalu mengintrospeksi dan menyelisihinya. Imam Ahmad meriwayatkan, Umar bin Khaththab berkata, "Hisablah dirimu sebelum dihisab! Sesungguhnya berintropeksi bagi kalian pada hari ini lebih ringan daripada hisab di kemudian hari. Begitu juga dengan hari 'aradl (penampakan amal) yang agung."

Hasan al-Bashri berkata, "Seorang mukmin itu pemimpin bagi dirinya sendiri. Ia mengintrospeksi dirinya karena Allah. Sesungguhnya hisab pada hari kiamat nanti akan ringan bagi mereka yang telah mengadakannya di dunia. Dan sebaliknya hisab akan berat bagi kaum yang menempuh urusan ini tanpa pernah berintrospeksi. Seorang mukmin itu bisa saja dikejutkan oleh sesuatu dan ia takjub kepadanya. Lalu berkatalah ia, 'Demi Allah, aku benar-benar menginginkanmu. Begitupun kamu adalah bagian dari kebutuhanku. Tetapi, allah tidak memberi alasan bagiku untuk mencapaimu. Duhai, ada jurang diantara kau dan aku!' Maka sesuatu itu pun lenyap dari hadapannya. Kemudian si mukmin akan kembali kepada dirinya dan berkata, 'aku tidak menginginkan hal ini! Apa peduliku dengan semua ini! Demi Allah aku tidak akan mengulanginya selama-lamanya!' Orang-orang yang beriman adalah orang-orang yang ditopang oleh Al-Qur'an. Al-Qur'an menghalangi kehancurannya. Seorang mukmin adalah tawanan di dunia yang berusaha membebaskan diri (menuju negerinya: akhirat). Dia tidak merasa aman sampai berjumpa dengan Allah. Dia tahu bahwa pendengaran, penglihatan, lisan, dan anggota badan, semuanya akan dimintai pertanggungjawaban."

Malik bin Dinar bertutur,"Semoga Allah merahmati seseorang yang berkata kepada diri (nafsu)nya, 'Bukankah kamu pelaku ini? Bukankah kamu pelaku itu?' Lalu ia mencelanya dan mengalahkannya. Kemudian dia memulazamahkan dirinya kepada kitab Allah, sehingga menjadi pemimpinnya."

Adalah benar bagi setiap orang yang beriman kepada Allah subhanahu wa taala dan hari akhir untuk tidak melupakan introspeksi kepada nafsunya, menyempitkan ruang geraknya, dan menahan gejolaknya. Sehingga, setiap hembusan nafas adalah mutiara yang bernilai tinggi, dapat ditukar dengan perbendaharaan yang kenikmatannya tak akan pernah sirna sepanjang masa. Menyia-nyiakan nafas ini, atau menukarnya dengan sesuatu yang mendatangkan kecelakaan adalah kerugian yang sangat besar. Tidak dapat mentolerirnya kecuali manusia paling bodoh dan paling tolol. Hanya saja, hakekat kerugian ini baru benar-benar tampak nanti di hari kiamat.

"Pada hari setiap jiwa mendapati segala kebaikan yang dilakukannya dihadirkan dan juga segala kejahatan yang dilakukannya. Ia ingin ada penghalang yang panjang antara dia dan kejahatannya."(QS Ali Imran: 30)

Muhasabah (menginstrospeksi diri) itu ada dua macam, sebelum beramal dan sesudahnya.

Muhasabah sebelum beramal yaitu hendaknya seseorang berhenti sejenak, merenung di saat pertama munculnya keinginan untuk melakukan sesuatu. Tidak bersegera kepadanya sampai benar-benar jelas baginya bahwa melakukannya lebih baik daripada meninggalkannya.

Hasan al-Bashri berkata, "Semoga Allah merahmati seorang hamba yang berpikir di saat pertama ia ingin melakukan sesuatu. Jika itu karena Allah ia lanjutkan dan jika bukan karena-Nya ia menangguhkannya."

Sebagian ulama menjelaskan penuturan al-Hasan ini dengan, 'Apabila diri tergerak untuk melakukan sesuatu, pertama-tama ia harus merenung, apakah amalan itu mampu ia kerjakan atau tidak. Jika tidak ada kemampuan untuk itu hendaknya ia berhenti. Tetapi jika ia mampu, hendaknya ia berpikir, apakah melakukannya lebih baik daripada meninggalkannya, ataukah sebaliknya. Jika yang ada adalah kemungkinan kedua, maka ia mesti meninggalkannya. Tetapi jika yang pertama, hendaknya ia bertanya, apakah faktor pendorongnya adalah untuk mendapatkan wajah Allah subhanahu wa ta'ala dan pahalanya, ataukah untuk mendapatkan kehormatan, pujian dan harta benda. Jika jawaban yang kedua yang muncul, hendaknya ia meninggalkannya. Meskipun jika ia melakukannya ia akan mendapatkan apa yang dicarinya. Ini sebagai pelatihan bagi diri agar tidak terbiasa dengan kesyirikan dan supaya takut beramal untuk selain Allah.

Semakin takut seseorang untuk beramal karena selain Allah, semakin ringan baginya untuk beramal karena Allah subhanahu wa ta'ala. Tetapi jika yang muncul adalah jawaban yang pertama, sekali lagi ia harus bertanya, apakah dia mendapatkan bantuan untuk itu? Atau adakah teman-teman yang akan membantu dan menolongnya- jika amalan itu tidak bisa dikerjakan sendirian? Jika tidak ada, ia harus menahan diri sebagaimana Nabi shalallahu alaihi wa sallam telah menahan diri dari memerangi musyrikin Mekah sampai terkumpul kekuatan dan kaum penolong. Adapun jika ia dibantu, hendaknya ia maju beramal, dengan izin Allah subhanahu wa ta'ala ia akan mendapat kemenangan. Dan adalah kemenangan itu tidak akan terlepas kecuali jika salah satu dari perkara-perkara di atas terlepas. Sekali lagi, dengan mengadakan hal-hal di atas kemenangan tidak akan terlepas. Itulah empat perkara yang harus dicermati oleh seorang hamba sebelum ia beramal.

Muhasabah sesudah beramal itu ada tiga:
1. Introspeksi diri atas berbagai ketaatan yang telah dilalaikan, yang itu adalah hak Allah subhanahu wa ta'ala. Bahwa ia telah melaksanakannya dengan serampangan, tidak semestinya. Padahal hak Allah subhanahu wata'ala berkaitan dengan satu bentuk ketaatan itu ada enam. Yaitu, ikhlas dan setia kepada Allah subhanahu wa ta'ala di dalamnya, mengikuti Rasulullah shalallahu alaihi wa salam, menyaksikannya dengan persaksian ihsan, menyaksikannya sebagai anugerah Allah subhanahu wa ta'ala baginya, dan menyaksikan kelalaian dirinya di dalam mengamalkannya. Demikian, ia harus melihat apakah dirinya telah memenuhi keseluruhannya?

2. Introspeksi diri atas setiap amalan yang lebih baik ditinggalkan daripada dikerjakan.
3. Introspeksi diri atas perkara yang mubah, karena apa ia melakukannya. Apakah dalam rangka mengharap Allah subhanahu wa ta'ala dan akhirat, sehingga ia beruntung? Ataukah untuk mengharapkan dunia dan keserbabinasaannya, sehingga ia merugi?

Akhir dari perkara yang dilalaikan, tidak disertai dengan muhasabah, dibiarkan begitu saja, dianggap mudah dan disepelekan adalah kehancuran. Ini adalah keadaan orang-orang yang tertipu. Ia pejamkan matanya dari berbagai akibat kebejatannya sambil berharap Allah subhanahu wa ta'ala mengampuninya. Ia tidak pernah peduli kepada muhasabah dan akibat kejahatannya. Pun jika ia melakukannya, dengan segera ia akan berbuat dosa, menekuninya dan ia akan sangat kesulitan meninggalkannya.

Kesimpulan dari uraian ini, hendaknya seseorang itu mengintrospeksi diri lebih dahulu pada hal-hal yang fardlu. Bila ia melihat ada kekurangan padanya, ia akan melengkapinya dengan qadla' (penggantian) atau ishlah (perbaikan). Lalu kepada hal-hal yang diharamkan. Bila ia merasa pernah melakukannya, ia pun bersegera untuk bertaubat, beristighfar, dan mengamalkan perbuatan-perbuatan baik yang dapat menghapuskan dosa. Kemudian kepada kealpaan. Bila ia mendapati dirinya telah alpa berkenaan dengan tujuan penciptaannya, maka ia segera memperbanyak dzikir dan menghadap Allah subhahanu wa ta'ala. Lalu kepada ucapan-ucapannya, atau kemana saja kakinya pernah berjalan, atau apa saja yang tangannya pernah memegang, atau telinganya pernah mendengar. Apa yang diinginkan dari semua ini? Mengapa ia melakukannya? Untuk siapa? Dan sesuaikah dengan petunjuk?

Sesungguhnya setiap gerakan atau ucapan itu akan dihadapkan pada dua pertanyaan, untuk siapa dikerjakan? dan bagaimana cara pengerjaannya? Pertanyaan pertama tentang ikhlas dan yang kedua tentang mutaba'ah (kesesuaian dengan sunnah)

Allah subhanahu wa ta'ala berfirman,
"Supaya (Allah) memintai pertanggungjawaban orang-orang yang benar tentang kebenaran mereka." (QS Al-Ahzab 8).

Apabila orang-orang yang benar saja dimintai pertanggungjawaban atas kebenarannya, dan dihisab atasnya, lalu bagaimana dengan orang-orang yang dusta?

Faedah Muhasabah

1. Mengetahui aib diri
Barangsiapa tidak mengetahui aib dirinya sendiri, tidak mungkin mampu membuangnya. Yunus bin 'Ubaid berkata, "Aku benar-benar mendapati seratus bentuk kebajikan. Tetapi kulihat, tidak ada satu pun yang ada pada diriku."

Muhammad bin Wasi' berkata, "seandainya dosa-dosa itu mempunyai bau, sungguh tidak ada seorang pun yang sanggup duduk di dekatku."

Imam Ahmad meriwayatkan, Abu Darda' berkata, "Seseorang itu tidak memahami agama ini dengan baik sampai ia membenci orang lain karena Allah subhanahu wa ta'ala, kemudian ia kembali kepada nafsunya dan ia lebih membencinya lagi."

2. Mengetahui hak Allah terhadapnya.

Hal itu akan membuatnya mencela nafsunya sendiri serta membebaskannya dari ujub dan riya'. Juga membukakan pintu ketundukan, penghinaan diri, kepasrahan dihadapan-Nya, dan keputusasaan terhadap dirinya sendiri. Sesungguhnya keselamatan itu hanya dapat dicapai dengan ampunan dari Allah subhanahu wa ta'ala dan rahmat-Nya. Merupakan hak Allah subhanahu wa ta'ala untuk ditaati dan tidak dimaksiati, diingat dan tidak dilupakan, serta disyukuri dan tidak dikafiri.

Diambil dari: Tazkiyah An-Nafs, Konsep Penyucian Jiwa Menurut Para Salaf; Ibnu Qoyyim al-Jauziyah, Ibnu Rajab al-Hambali, Imam Ghazali; Penerbit Pustaka Arafah